Selasa, 03 Oktober 2017

Ternyata kau jodohku

Bismillah…

Disebuah desa yang disekeliling desa itu terdapat hamparan air laut yang sangat indah. Itulah desa wanita yang menjadi rebutan para jejaka di desa itu. Disana ada beberapa kumpulan kepala keluarga salah satunya adalah kelurga wanita itu. wanita itu terlahir dari seorang Nelayan yang handal yang berasal dari Buton dan seorang ibu yang tulus merawatnya hingga dewasa dan berasal dari Bira (selayar).
Wanita itu tak memiliki pendidikan yang tinggi karena dahulu di desa itu belum ada sarana untuk mendapatkan pendidikan seperti saat ini. Akan tetapi gadis itu belajar dari orang ke orang yang dikenal dengan belajar ma mbo’.  Yang artinya belajar sama nenek/kakek.  Setiap ada mbo’-mbo’ sedang berkumpul untuk membahas sebuah perkara yang berkaitan dengan Agama maka si wanita tidak menyia-yiakan kesempatan itu dan ia bergabung bersama mbo’-mbo’ untuk mendapatkan ilmu.
Ayah wanita itu selain nelayan yang handal juga salah satu guru ngaji di desa . Ketika ia malas untuk belajar mengaji maka ayahnya akan menghukumnya, itulah salah satu sikap seorang ayah yang dapat diteladani buat para calon ayah.
Wanita itu adalah anak yang berbakti kepada orangtuanya , ketika kedua orangtuanya hendak kelaut untuk melaut mencari hasil laut maka ia ikut meskipun dilarang.  Sehingga para jejaka bahkan tua-tua keladi naksir dengan kepribadian yang ia miliki. Karena para lelaki di Desanya sangat encintai waita yang kuat kerja, Ia wanita yang lihai dalam melaut serta tegas. Hebat bukan?
Waktu terus berputar, pemuda silih berganti datang kepada walinya untuk meminangnya namun dengan ketegasan yang ia miliki ia menolak, sehingga kedua orangtuanya berniat untuk menjodohkannya dari pihak keluarga masing-masing. Ibunya ingin ia menikah dari pihak ibu begitupun dengan ayah, dan keduanya tak mau mengalah dalam perjodohan ini, padahal wanita yang akan dijodohkan ini hanya satu.
Suatu hari ayahnya bertemu seorang pemuda asing yang berasal dari Jeneponto (Sulsel) yang sedang merantau di daerah itu sebagai buruh bangunan, dan pemuda ini sangat terpukau dengan akhlak ayah gadis itu yang menyambutnya dengan ramah dan selalu memberikan nasehat kepadanya, pemuda itu hanya dengan melihat akhlak ayah si wanita  ia terdorong untuk menjadikanya sebagai mertua. Namun, karena ketegasannya ia menolak lamaran dari pemuda yang berdarah Makassar itu bahkan menghinanya.
Pemuda ini sampai didaerah itu karena ia memiliki kisah tersendiri. Pemuda ini adalah anak dari orang yang paham Agama dan memiliki martabat, dihargai oleh masyarakat dan disegani dikalangannya saat itu. Saat itu yang boleh bersekolah adalah hanya anak seorang bangsawan  dan dia mendapat kesempatan untuk sekolah meskipun ia bukan anak bangsawan. Mereka belajar sangat terbatas dan menggunakan batu bata untuk menulis pelajaran setelah itu dihapus kembali. Setelah ia tamat dari pendidikannya ia langsung medaftar polisi. Sambil menunggu pengumuman ia bermaksud untuk melamar kekasih hatinya akan tetapi kedua orangtuanya tak merestui sehingga ia GEGANA.   Akhirnya ia merantau kedaerah SULTRA dan tak memperdulikan lagi pendidikannya dan ia memilih untuk mejadi buruh.
Kembali pada si wanita, ia dilamar lagi tapi kali ini berbeda yang melamarnya sudah berumur bisa dijadikan ayah. wanita ini nekat untuk keluar dari rumah di waktu malam dan ditemani adik sepupu yang masih ABG. wanita itu meminta kepada adiknya untuk diantar ketempat yang aman agar tidak diketahui dan satu-satunya tempat yang aman adalah kota Kendari. Malam itu juga mereka bergegas untuk pergi, diperjalanan adiknya singgah kepada buruh bangunan  untuk meminta upahnya sebagai biaya pergi ke Kota dan ternyatabuu bangunan itu adalah pemuda yang sudah ditolak lamarannya.
Pemuda ini, menyadari bahwa yang bersama dengan anak ABG yang memita upahnya adalah wanita yang sudah menolak lamarannya. Akhirnya ia mengatur strategi dan menyuruh anak itu untuk pergi ke rumah ketua adat dengan alasan nanti disana upahnya akan diberikan. Si anak nurut saja dan pergi bersama wanita itu.
Dirumah ketua adatlah, pemuda ini melamarnya yang kedua kalinya dan mengatakan kepada ketua adat bahwa mereka Silariang (kawin lari) tapi wanita itu menolak karena faktanya tak seperti itu, dan wanita itu mengambil keputusan untuk kembali kerumahnya dengan pertimbanga jika ia pulang maka ia akan menikah dengan si tua keladi tapi jika ia bertahan ia menikah dengan lelaki yang tak ada cinta sedikitpun. Pemuda pun gelisah karena dalam adat kebiasaannya orang Makassar itu memiliki rasa malu yang tinggi, sehingga membuatnya ingin melakukan bunuh diri hanya karena malu yang ia rasakan.
Karena nasehat itu sangat penting, istri dari ketua adat menasehati si wanita untuk menerima lamaran si pemuda dan menerima ketetapan yang Allah berikan padanya karena jika ia pulang maka ia akan dinikahkan dengan lelaki yang sudah jauh lebih tua dari dia. Dengan pertimbangan dan memohon ridhonya Allah akhirnya ia memilih untuk menikah bersama si pemuda itu.
Sebelum menikah mereka melakukan perjanjian dan saling jujur. Pemuda berkata “Aku bersumpah aku tak pernah menyentuh wanita lain”    begitupun dengan si wanita “ Akupun demikian tak seorangpun yang menyentuhku”   dan akhirnya mereka MENIKAH.
Inilah kisah yang diangkat dari kisah nyata dari Desa Bungin Permai, Kec. Tinanggea Kab. Konsel. SULTRA. Yang menggambarkan bahwa jodoh itu sudah ditentukan dan kita tak tahu siapa,dimana dan kapan kita menjemput jodoh atau jodoh menjemput kita? Bisa saja jodoh kita yang setiap saat bertemu, atau yang tak pernah bertemu. Dan jodoh itu cerminan dirimu. Kau boleh memilih jodohmu yang baik seperti cerita diatas, wanita yang dihadapi oleh dua pilihan jodoh antara tua keladi atau masih perjaka. Jangan khawatir tentang joohmu jika kau tak mendapatkanna di dunia maka telah siap bidadari-bidadara di syurga-Nya. Percayalah jodoh yang pasti mejemputmu adalah KEMATIAN.

Wassalam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hikmah Perjalanan

            Tak bisa melukiskan isi hati saat ini, kemalasan selalu melandaku. Banyak hal yang ingin ku ungkapkan namun aku tak bisa me...