Bismillah…
Disebuah desa yang disekeliling desa
itu terdapat hamparan air laut yang sangat indah. Itulah desa wanita yang menjadi
rebutan para jejaka di desa itu. Disana ada beberapa kumpulan kepala keluarga
salah satunya adalah kelurga wanita
itu. wanita itu terlahir dari
seorang Nelayan yang handal yang berasal dari Buton dan seorang ibu yang tulus
merawatnya hingga dewasa dan berasal dari Bira (selayar).
Wanita
itu tak memiliki pendidikan yang tinggi karena dahulu di desa itu belum ada
sarana untuk mendapatkan pendidikan seperti saat ini. Akan tetapi gadis itu
belajar dari orang ke orang yang dikenal dengan belajar ma mbo’. Yang
artinya belajar sama nenek/kakek. Setiap ada mbo’-mbo’ sedang berkumpul untuk membahas
sebuah perkara yang berkaitan dengan Agama maka si wanita tidak menyia-yiakan
kesempatan itu dan ia bergabung bersama mbo’-mbo’ untuk mendapatkan ilmu.
Ayah wanita itu selain
nelayan yang handal juga salah satu guru ngaji di desa . Ketika ia malas untuk
belajar mengaji maka ayahnya akan menghukumnya, itulah salah satu sikap seorang
ayah yang dapat diteladani buat para calon ayah.
Wanita itu adalah anak yang
berbakti kepada orangtuanya , ketika kedua orangtuanya hendak kelaut untuk
melaut mencari hasil laut maka ia ikut meskipun dilarang. Sehingga para jejaka bahkan tua-tua keladi
naksir dengan kepribadian yang ia miliki. Karena para lelaki di Desanya sangat
encintai waita yang kuat kerja, Ia wanita yang lihai dalam melaut serta tegas.
Hebat bukan?
Waktu terus berputar,
pemuda silih berganti datang kepada walinya untuk meminangnya namun dengan ketegasan
yang ia miliki ia menolak, sehingga kedua orangtuanya berniat untuk
menjodohkannya dari pihak keluarga masing-masing. Ibunya ingin ia menikah dari
pihak ibu begitupun dengan ayah, dan keduanya tak mau mengalah dalam perjodohan
ini, padahal wanita yang akan dijodohkan ini hanya satu.
Suatu hari ayahnya bertemu
seorang pemuda asing yang berasal dari Jeneponto (Sulsel) yang sedang merantau
di daerah itu sebagai buruh bangunan, dan pemuda ini sangat terpukau dengan
akhlak ayah gadis itu yang menyambutnya dengan ramah dan selalu memberikan
nasehat kepadanya, pemuda itu hanya dengan melihat akhlak ayah si wanita ia terdorong untuk menjadikanya sebagai
mertua. Namun, karena ketegasannya ia menolak lamaran dari pemuda yang berdarah
Makassar itu bahkan menghinanya.
Pemuda ini sampai didaerah
itu karena ia memiliki kisah tersendiri. Pemuda ini adalah anak dari orang yang
paham Agama dan memiliki martabat, dihargai oleh masyarakat dan disegani
dikalangannya saat itu. Saat itu yang boleh bersekolah adalah hanya anak
seorang bangsawan dan dia mendapat
kesempatan untuk sekolah meskipun ia bukan anak bangsawan. Mereka belajar
sangat terbatas dan menggunakan batu bata untuk menulis pelajaran setelah itu
dihapus kembali. Setelah ia tamat dari pendidikannya ia langsung medaftar
polisi. Sambil menunggu pengumuman ia bermaksud untuk melamar kekasih hatinya
akan tetapi kedua orangtuanya tak merestui sehingga ia GEGANA. Akhirnya ia merantau kedaerah SULTRA dan tak
memperdulikan lagi pendidikannya dan ia memilih untuk mejadi buruh.
Kembali pada si wanita, ia
dilamar lagi tapi kali ini berbeda yang melamarnya sudah berumur bisa dijadikan
ayah. wanita ini nekat untuk keluar dari rumah di waktu malam dan ditemani adik
sepupu yang masih ABG. wanita itu meminta kepada adiknya untuk diantar ketempat
yang aman agar tidak diketahui dan satu-satunya tempat yang aman adalah kota
Kendari. Malam itu juga mereka bergegas untuk pergi, diperjalanan adiknya singgah
kepada buruh bangunan untuk meminta
upahnya sebagai biaya pergi ke Kota dan ternyatabuu bangunan itu adalah pemuda
yang sudah ditolak lamarannya.
Pemuda ini, menyadari bahwa
yang bersama dengan anak ABG yang memita upahnya adalah wanita yang sudah
menolak lamarannya. Akhirnya ia mengatur strategi dan menyuruh anak itu untuk
pergi ke rumah ketua adat dengan alasan nanti disana upahnya akan diberikan. Si
anak nurut saja dan pergi bersama wanita itu.
Dirumah ketua adatlah,
pemuda ini melamarnya yang kedua kalinya dan mengatakan kepada ketua adat bahwa
mereka Silariang (kawin lari) tapi
wanita itu menolak karena faktanya tak seperti itu, dan wanita itu mengambil
keputusan untuk kembali kerumahnya dengan pertimbanga jika ia pulang maka ia
akan menikah dengan si tua keladi tapi jika ia bertahan ia menikah dengan
lelaki yang tak ada cinta sedikitpun. Pemuda pun gelisah karena dalam adat
kebiasaannya orang Makassar itu memiliki rasa malu yang tinggi, sehingga
membuatnya ingin melakukan bunuh diri hanya karena malu yang ia rasakan.
Karena nasehat itu sangat
penting, istri dari ketua adat menasehati si wanita untuk menerima lamaran si
pemuda dan menerima ketetapan yang Allah berikan padanya karena jika ia pulang
maka ia akan dinikahkan dengan lelaki yang sudah jauh lebih tua dari dia.
Dengan pertimbangan dan memohon ridhonya Allah akhirnya ia memilih untuk
menikah bersama si pemuda itu.
Sebelum menikah mereka
melakukan perjanjian dan saling jujur. Pemuda berkata “Aku bersumpah aku tak pernah menyentuh wanita lain” begitupun dengan si wanita “ Akupun demikian tak seorangpun yang
menyentuhku” dan akhirnya mereka
MENIKAH.
Inilah kisah yang diangkat
dari kisah nyata dari Desa Bungin Permai, Kec. Tinanggea Kab. Konsel. SULTRA.
Yang menggambarkan bahwa jodoh itu sudah ditentukan dan kita tak tahu
siapa,dimana dan kapan kita menjemput jodoh atau jodoh menjemput kita? Bisa
saja jodoh kita yang setiap saat bertemu, atau yang tak pernah bertemu. Dan
jodoh itu cerminan dirimu. Kau boleh memilih jodohmu yang baik seperti cerita
diatas, wanita yang dihadapi oleh dua pilihan jodoh antara tua keladi atau masih
perjaka. Jangan khawatir tentang joohmu jika kau tak mendapatkanna di dunia
maka telah siap bidadari-bidadara di syurga-Nya. Percayalah jodoh yang pasti
mejemputmu adalah KEMATIAN.
Wassalam..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar